Pengikut atau Diikuti

Jadi Pengikut atau Diikuti Orang Lain?

“Bang, buat video kaya gini aja. Lihat si X, cepet naik subscribersnya!”atau“Bang, ga mau kaya si X biar views sama subscribersnya banyak?” Oke, oke. Pertanyaan kaya gitu mulai banyak gue dapatkan dari media sosial gue, apalagi Instagram. Emang media sosial menyeramkan ya, pertanyaan atau pernyataannya.

Beberapa kalian gue bilang di media sosial, atau ketika membalas pesan pribadi yang masuk kalau gue itu orangnya cukupidealis dengan sesuatu. Apa ituIdealis? Mending gue taruh aja kutipannya dari Wikipedia dibawah ini ya biar kalian juga bisa baca.

Idealisadalah suatu penyebutan terhadap seseorang yang memilikiidealisme.Seseorang yang idealis mengandalkan pemahaman padavisiyang jelas. Ia juga bersikap seperti itu, karena memiliki keyakinan yang kokoh atas persoalan yang sedang ditangani atau yang akan ditanamkan pengaruhnya.Dengan landasansikapseperti itu, seseorang yang idealis sering menjadi tidak dapat mengendalikan komitmen atas masalah atau gagasan bersama kerena sudah tercampur dengan keyakinannya sendiri.

Seorang idealis juga memiliki suatu pengaruhpositif, karena ia dapat memperlihatkanantusiasmedan keyakinan penuh melalui keterlibatan secara emosional atasvisiyang sedang dituju dan seringkali mendorong orang lain untuk mencapaivisiitu bersama.Menurut Henry Ford pengaruh positif lain dari seorang idealis adalah orang yang membantu orang lain untuk menjadi makmur.

Udah tahukan apa itu idealis? Sekarang gue mau ngejelasin sedikit di blog sederhana gue kenapa gue ga mau jadi si X seperti yang ada dikalimat atas. Begini, setiap orang punya gaya masing-masing dalam membuat konten. Baik konten video ataupun tulisan. Tapi, pada konsepnya setiap orang pasti punya panutan dalam membuat konten tersebut meskipun pada akhirnya menjadi tidak nyaman jika mengikuti orang tersebut.

ATM (Amati, Tiru, Modifikasi), nah mungkin konsep seperti itu yang gue buat untuk channel youtube personal gue sendiri. Gue melihat para pembuat konten yang sudah memulai lebih dulu, bagaimana mereka membuat konten dari pembukaan sampai akhir video tersebut. Setelah gue amati, mulailah gue tiru dan ternyata mengikuti mereka bukan hal yang membuat gue nyaman, dan terjadilah modifikasi yang sesuai dengan diri gue sendiri.

Kalau, gue mengikut seseorang yang sudah pernah atau bahkan banyak dilakukan oleh orang lain di youtube. Jelas, disana akan ada pembanding dan membuat kalian merasa bersaing harus lebih bagus, minimal menyamai mereka semua. Tapi, ketika gue membuat seseuatu yang berbeda dan orang memilih untuk tidak melihat konten yang gue berikan ya itu tidak masalah.

Karena menurut gue, suka atau tidak seseorang kepada sesuatu tidak bisa kita paksakan. Begitu juga dengan sebuah konten tulisan ataupun video.“Sia-sia bang, bikin video tapi ga ada yang lihat!” dulu juga waktu gue bilang adsense gue banned, banyak yang bilang begitu. Toh, tetap ada yang melihat konten video gue. Lantas, ketika gue tetap dijalur gue sekarang gue harus jadi orang lain? Itu bukan gue, seriusan itu bukan gue banget.

“Bang, ga ikutan acara-acara gitu dari pembuat konten yang udah keren? Biar bisa lihat mereka bikin konten gimana!” Tenang, youtube udah punya acara itu dan ga bahas masalah teknik pengambilan gambar mereka kok. Justru, gue dapat ilmu mengenai soft skill atau apapun diluar teknik membuat konten dll. Ingat, ketika kalian melihat sesuatu yang kalian suka dan satu minat kecenderungannya kalian akan terbawa untuk mengikuti apa yang dicontohkan. Setuju? Kalau kata gue sih begitu, ga tau kalau yang lain ya.

Sekarang, kalau kalian berkata jumlah gue ga akan banyak dll. Itu semua gue serahkan ke kalian masing-masing, karena menurut gue apa yang gue berikan ada manfaatnya untuk kalian (semoga) bukan semata mengejar apa yang kebanyakan orang lain kejar. Kalian, mau jadi atau orang lain? Tulis dikolom komentar, ya!

KASIH RATE YUK!
4 5
Oleh


4 comments on “Jadi Pengikut atau Diikuti Orang Lain?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *